Kamis, 01 Desember 2011

Would you change your past?


Seorang finalis kontes kecantikan mendapat pertanyaan final,"Jika kamu bisa kembali ke masa lalu, apa yang ingin kamu ubah?". Si finalis dengan pedenya menjawab,"Saya tidak ingin mengubah apa-apa. Hidup saya sudah sempurna, dan bila saya mengubah sesuatu di masa lalu, saya mungkin tidak akan berada di sini saat ini." And it was the winning answer that makes her entitled as miss universe (I forgot what year).


Beberapa waktu yang lalu, saya nonton film "Before You Said I Do". Film ini sangat berkesan. Bukan karena kegantengan aktornya, bukan juga karena jalan cerita dengan konsep yang baru. Yang paling berkesan adalah usaha si cowok untuk membuktikan ke si cewek kalo "He's the one".


Ceritanya nih si cewek terlalu takut untuk menikah sama si cowok karena pernah gagal dalam pernikahan sebelumnya. Si cowok bikin wish supaya dia bisa ketemu si cewek sebelum pernikahan pertama si cewek. His wish is granted. Si cowok kembali ke 10 tahun yang lalu, 3 hari sebelum si cewek menikah. Segala macam cara dilakukan si cowok buat bikin si cewek jatuh cinta sama si cowok sekaligus membatalkan pernikahan dengan calon suami pertama (yang adalah seorang cowok brengsek-beliau selingkuh sama si wedding planner saat rehearsal dinner). In the end, like most movies, si cewek dan cowok akhirnya menikah.


In the contrary, pernah nonton "Butterfly Effect", gak? Film ini ceritanya tentang seorang cowok(diperankan oleh Ashton Kutcher) yang punya kekuatan untuk kembali ke masa lalu. Niat awalnya kembali ke masa lalu biar bisa jadian sama cewek yang disukai, tapi tidak seperti film yang di atas, setelah bisa jadian si cewek malah hidupnya jadi sengsara. Si cowok balik lagi dan mengubah masa lalu, tapi tetap saja si cewek hidupnya menderita. Dan akhirnya ending film ini amat sangat menyebalkan bagi pecinta happy ending seperti saya.


So, back to you. Would you change your past if you have the chance?


Dalam hidup sering kita melakukan kesalahan. Dalam hidup banyak sekali hal yang kita sesali. Dan ada beberapa saat tertentu kita amat sangat berharap agar bisa kembali ke masa lalu.


But, for every action there's an equal reaction. Dan ada kemungkinan 50% hasil dari tindakan kita tidak seperti yang kita bayangkan (seperti kasus di film "Butterfly Effect").


Dan bila mengubah masa lalu kita juga berakibat perubahan total di masa depan kita. Siapkah kita menanggung resikonya?


Saya senang mengambil quotes dari film-film. Dan salah satu favorit saya adalah quote dari film "Kungfu Panda". "Yesterday is history, tomorrow is mistery, but today is a gift. That's why we call it Present."


Bagi saya, seseorang tidak dinilai dari masa lalunya. Seburuk apapun, segelap apapun, setiap hari adalah setiap kesempatan yang kita punya untuk menjadikan diri kita pribadi yang lebih baik di masa depan.


Dulu saya sering bermimpi mempunyai mesin waktu sehingga bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki banyak kesalahan yang sudah saya perbuat.


Hingga beberapa hari yang lalu, saya duduk sambil memandangi orang yang duduk di depan saya. Tiba-tiba hati saya tersentak. Jika saya diberi kesempatan kembali ke masa lalu dan mengubah satu titik saja dalam hidup, apakah saya akan tetap bisa bertemu orang ini? Jika tidak, apakah mata saya akan tetap berbinar seperti ini bila orang yang duduk di depan saya bukanlah beliau. Sejak saat itu, setiap kesalahan yang saya sesali seolah mulai pudar, satu per satu.


In the end, if it ever cross your mind about wanting to change your past, take a deep look at the eyes of your loved ones. Maybe your spouse, your lover, your best friend, your parents, your siblings, or maybe your children. And just imagine, would you be able to live this life without this person if changing your past means possibility of  the absence of their presence?

I already did. And my answer is, I can't. Because I can't imagine live a life without this amazing person. Every path I took in the past led me to meet him. I might not know what will happen in the future, but all I know is in this moment is I'm truly happy to have him. And I know my eyes won't sparkle when I see another person . Because I've tried a few times, and they didn't.

Sabtu, 19 November 2011

'Poconggg juga pocong' - an overrated book

Selama beberapa minggu, buku ini termasuk best seller di Gramedia di kota saya. Saya pun penasaran, sebagus apa buku yang selalu dibicarakan orang di Twitter.
"Poconggg Juga Pocong" atau disingkat PJP ditulis oleh sang pemilik akun Twitter @poconggg. Saya tidak mem-follow akun tersebut jadi saya tidak tahu gimana gaya penulisan beliau.
Saya meminjam buku ini dari seorang teman. Selain Raditya Dika dan beberapa penulis lain yang sudah saya kenal cara penulisannya, saya jarang membeli buku yang ditulis penulis Indonesia. Bukannya tidak menghargai hasil karya anak bangsa, hanya saja kadang kala saya merasa bahwa beberapa penulis tidak punya topik utama yang diceritakan dalam buku mereka. Tapi, bagi saya tidak sedikit penulis Indonesia punya tulisan yang berkualitas. Selain Raditya Dika yang saya sebut di atas, ada juga Dewi "Dee" Lestari, Ferdiriva Hamzah, Laura Bazuki, dll.
Saat membaca foreword dari penulis buku PJP, saya sudah merasakan beberapa kejanggalan. Misalnya, pada kalimat "they are like an angel". Entah apa, editornya lupa ato bagian kata pengantar tidak pernah di-edit, yang saya tahu, kalimat itu grammar-nya salah. Saya memang paham, typo adalah hal yang biasa terjadi, tapi tidak wajar terjadi untuk tulisan yang akan diterbitkan. Gimana kalo kebetulan ada bule yang membaca kalimat tersebut. kalimat tersebut saya yakin akan masuk ke suatu situs web yang khusus memuat kesalahan berbahasa Ingrris di negara-negara yang tidak menggunakan bahasa tersebut.
Beberapa bagian dari buku ini memang lucu. Tapi, tidak seperti buku-buku lain yang sejenis, buku ini tidak membuat saya betah untuk membacanya. kadang kala saya juga merasa bahwa sang penulis adalah orang yang kasar. dibuktikan dengan balasan e-mail ke salah satu follower. Salah satu kalimat bertuliskan "Persetan dengan kamu". What-the hell? Is that the way how you treat people? Well, I think you have bad attitude.
Beberapa komentar di cover belakang buku ini membuat saya bertanya-tanya dalam hati, apa si penulis komentar benar-benar membaca buku ini? Well, actually that's their problem, dan bukan urusan saya bagaimana penilaian mereka terhadap buku ini.
Bagi saya buku ini hanyalah buku biasa, bukan buku yang fenomenal, tapi bukan juga buku yang kurang bermutu. Dari skala 0-10, buku ini saya beri nilai 6,5.

Sabtu, 12 November 2011

Happily Ever After

Dedicated to my best friend, Sely.
Friday, November 11, 2011. The day which has been chosen by a lot for wedding day.
That also the day my best friend, Sely, chosen. That day was a total traffic fiasco, so we couldn't attended her matrimony. We arrived a little bit late at the reception.
Well, it was held out of town, so it was long trip. When we finally arrived, all of us are exhausted. Sely invited a lot of people to her wedding, approximately 1500 people was attending her wedding. When we got there, there's no more seat for us, and the ushers at her wedding weren't proactive enough -remembering they're the ushers, I supposed it was their job to found us some seats-, so we spent about half an hour standing.
Exhausted, hungry, pain in my legs for wearing high heels really taken over me. But when I finally see Sely's happy face, it felt like it all are paid off. She looks extremely happy. And I'm also happy for her. She finally got married with the guy she really loves. And I know how much she struggle for this wedding -the invitation issue, and lots of things.
Little prayer for Sely and Alvan, her husband, may you lives happily ever after. Congratulation for finally find your happy new beginning where you get to spend the journey ahead of both of you with the love of your life.

Jumat, 04 November 2011

The Cabinet

We cry together, laugh together, fight together, struggle together, share our joy together. At the end of the day, no matter what will happen in the next chapter of my life, these girls will always have their own spot in my mind.

Kamis, 03 November 2011

Meeting Bee (part 1)

Bee yang akan saya ceritakan bukanlah lebah penghasil madu. Ini adalah panggilan kesayangan saya untuk seseorang. Inisialnya B, daripada dipanggil be (ntar orang-orang nganggap saya lagi manggil Babe), saya lebih senang memanggilnya Bee. bagi kalian yang sampai di titik ini merasa penasaran, siapa sebenarnya Bee ini, maaf saya nggak bisa bilang nama aslinya di sini, dan fyi, dia bukan pacar, pasangan, atau kekasih saya. Bee hanyalah orang biasa, bukan orang paling jenius, bukan pula orang yang kegantengannya bikin silau.
I met Bee for the first time on January 5, 2009. We met for a brief moment, no "love at the first sight" or whatever it is. The only impression I got from Bee is a Smart Genius Impression. And he really is a genius. Well, the moment just passed like that. Nothing really happened. And I didn't even see him for about 5 months.
On June 2, 2009 I had the chance to meet him again. This time I got to spent a lot of time with him. Before I met him that day, I got a feeling that I'm about to met him. When it actually happened, it felt like deja vu. Time spent with him is so worthy to me. I started  to adore this smart and caring person.
Bee, not just smart and loving, he also is a caring person. That kind of cares that swept me off my feet. Made me fell head over heels. Sounds absurb right, but it is true.
From our frequent meetings, I started to notice him. Every single details of him, some details that I'm really sure a lot of people don't notice, maybe including himself.
Bee's accent sounds funny (in a cute way) when he speaks something with "s" in it. He always scratch behind his ear with his left hand while he's thinking. i also like his handwriting, not those neat-computer-font kind of writing, just regular handwriting, but I can recognize those whenever, wherever I see those.
Involuntarily, my life seemed to revolved around him. I just can't denied it if people told me  that I was obsessed with him. because I was. If any days gone by without me see him, it just felt so dull. The "Bee Phase"- that's how I like to recall those months with him- is also the phase of my life where I learned a lot of things, and I learned it from him.
For one week, during those months, Bee was missing. And he returned with some shocking news. It wasn't like I didn't see it coming, but still I was shocked. Since then I had to kept distance from him. But Bee is still the same person I know. He still tried to began the conversations between us, even though sometimes it sounds ridiculous. He still has the same glance of his eyes. And still the same comforting smile.
Bee is just a human, and so am I. I made a mistake. I thought that Bee is the one, when he wasn't, isn't, and won't be.
There still ots of wonderful things happened with Bee, I don't know when will I have the courage to share it all.

Rabu, 19 Oktober 2011

Life is an Adventure

Saya paling suka kalo iklan Nutrilon udah muncul di tivi (inget kan dulu ada iklan anak kecil di kursi belakang mobil trus ada narasi: "I want to live my life to the absolute fullest...", saya suka banget iklan ini sebelum di-dubbing jadi bahasa Indonesia). nah sekarang ada versi barunya yang saya rasa lebih keren lagi.... oooh, I Looove those commercials, both of them. Kata-katanya keren, trus bikin kita ngebayangin apa anak -anak seumuran gitu (toddlers) udah bisa mikir seperti itu.
Ngutip catching phrase-nya kalimat itu "Life is an adventure", saya terinspirasi nulis malam ini.
To be honest I'm not really an adventurer, but sometimes, I love to have adventures. 
For me, adventure is not just about going to the wilderness and try to catch some alligators. It simply going out of your comfort zone. 
Saya senang nyoba menu baru di restoran, ato sekedar lewat di jalan yang belum pernah saya lewati sebelumnya buat tau ada apa aja di jalan itu. Dan saya rasa yang dibutuhkan sebelum memulai suatu petualangan adalah curiosity and courage.
Well, di bawah ini ada gambar iklan favorit saya sama kata-katanya.


Senin, 17 Oktober 2011

Best Oscar's Red Carpet Dress Ever

I love fashion. And I know, every girl loves it too. I think every aspect of our life can't be separated from fashion. Along with fashion, I also love movie, just like every other girl.
Academy Awards, also known as Oscar is an annual event where films combined with fashion. I even prefer the red carpet where all the stars are dress to the nine.Among all of those pretty dresses, there are some that i really really love.Here it comes.
#5. Reese Witherspoon 
Not just got a recognition of her acting and won the award as best actress, at 2006 Reese's dress is also an award winning dress. I love the cutting, the color, and the embelishment of this dress. I  personally think that this color is perfect for red carpet. And the best accessory of course is her hubby Ryan Phillipe, too bad they got divorced.


#4. Carrey Mulligan
I fell in love with this edgy black dress, with the embelishment. It suited her well, and also matched with her pixie hairstyle. If only she wore another pair of shoes.
#3. Hailee Steinfeld
Rumour has it that Hailee also participated to designed this Marchesa dress. This is an age-appropriate dress. Way to go, Hailee.
  #2. Mila Kunis
This lavender dress is a statement dress. It gives a sexy but not skanky impression. The laces at the perfect places. Mila Kunis wore this dress with an attitude.
#1. Miley Cyrus
This dress is my dream dress. I want this dress as a wedding dress. The cutting, the style, the color, every little details of this dress is perfectly stunning. This is the best dress ever.

Minggu, 16 Oktober 2011

My Favourite Chair scene from GG...

Overheard in Manado

terinspirasi dari "Overheard in NY" dan "Nguping Jakarta", akhirnya sodara-sodara..... (drum roll please), new note from me...
sebelum dilanjutkan, secara pribadi saya ingin berterima kasih kepada orang-orang tertentu (apalagi yang merasa dirinya adalah orang tersebut) karena telah mengeluarkan statement yang menginspirasi saya menulis (ups, maksud saya, mengetik) ini.

hampir setiap hari kita sering mendengar orang yang salah ngomong. entah "slip of the tongue" ato emang orang tersebut tidak sadar bahwa orang yang mendengar statement tersebut bisa ngakak guling-guling di lantai. saya gak akan membahas statement-statement seperti "salah jurus" yang sangat menghibur saat lunch di McD sesudah berkeringat main bultang, ato statement "pangeran impian" yang bisa bikin seseorang mukul bola golf dengan benar, ato the most remarkable statement "garfield itu binatang apa?" yang bikin belajar kelompok lebih seru dan akibatnya saya sering disangka gila krn setiap kali ingat satement tersebut saya bisa ketawa sendiri, tak peduli dimana tempatnya.

Walaupun statement-statement di bawah ini mungkin tidak selucu statement-staement di atas, bahkan sedikit mengandung ironi. saya memcoba mengingat lagi staement-statement lain untuk  ditulis (sekali lagi maaf, diketik) di part 2.

#1.
di suatu minggu siang, penulis sedang makan siang bersama keluarga. tiba-tiba hape seseorang bunyi. ternyata ada sms. untung orang tersebut tidak memasang ringtone doraemon, sehingga penulis tidak akan distracted oleh statement yang dikeluarkan seseorang di meja tersebut saat si empunya hape ngomong, "huh, sms penipu lagi. ma, kirimin aku pulsa." tiba-tiba seseorang, kita sebut saja X, nyeletuk, "gue juga pernah dapat sms kayak gitu". sounds like an ordinary conversation until X nyeletuk lagi, "yah gue balas aja, sialan loh, piiip, piiip, piiip (bunyi sensor karena kata2 berikut tergolong unrated) ngapain loe ngabisin pulsa segitu banyak trus mau minta lagi. gue balas smsnya kayak gue mo sms anak gue."
i was like "WTH" gile bener, ada orang yang ngomong ke anaknya dengan bahasa "bonbin"... ckckck, i'm not a parent yet, but i'm sure that's not how we suppose to talk to our children. saat mendengar hal tersebut, besar harapan penulis agar si X hanya bercanda.

#2.
agak kurang lucu dan tidak se-dramatis #1. tapi ini benar-benar bikin ngakak. entah ini adalah "gift" ato "curse" (saat ini penulis sedang mengutip Peter Parker, sambil membayangkan lagi adegan terakhir waktu beliau di pemakaman papanya James Franco), seorang penulis biasanya punya imajinasi yang besar.
saat sedang-jalan2 di mall bersama anggota kabinet yang lain. keadaan mall yang sedang crowd gak membuat telinga penulis untuk tidak peka menguping (tanpa disengaja, ini murni suatu kebetulan krn penulis bukanlah seorang stalker yang nguntit target cuma untuk menunggu suatu statement yang lucu) pembicaraan orang-orang di sekitar.
saat sedang boring seboring-boringnya karena belum nemu tiara buat properti pemotretan, tiba-tiba terdengar seorang bapak yang lagi ngomong di hape. "kamu di mana. ke sini aja, itu udah papa parkir di mobil" saya langsung berhenti berjalan. tiba-tiba dunia terasa berjalan begitu lambat saat saya membayangkan mobil bapak tersebut yang juga merangkap tempat parkir. ingin rasanya penulis berbalik dan segera bertanya sama si bapak, "pak, liat diong mobilnya kayak gimana? bapak yakin itu mobil? bukan autobots kan ato decepticons?" (pertanyaan terkahir karena dalam pikiran penulis saat ini adalah, apakah "transformers: dark of the moon" akan diputar di indonesia? dan ya, saya akui, saya memang punya "flight of idea"). tapi setelah dipikir-pikir lagi sebaiknya tidak saya lakukan, karena bisa-bisa saya disangka gila dan segera dirujuk ke RS Ratumbuysang dan dirawat di rauang gaduh gelisah. akhirnya dengan langkah gontai, penulis melanjutkan acara hunting tiara.

so, guys, always remember. jangan pernah sekali-kali mengeluarkan statement-statement sejenis di atas bila tidak ingin statement anda masuk di part 2 dst.

regards, TDPL.

How I hate hypocrisy

Dedicated to a friend of mine, you're just a victim of hypocrisy.
Hypocrisy, according to wikipedia, is the state of pretending to have beliefs, opinions, virtues, ideals, thoughts, feelings, qualities, or standards that one does not actually have. The word hypocrisy comes from the Greek ὑπόκρισις (hypokrisis), which means "Jealous" "play-acting", "acting out", "coward" or "dissembling".
Earlier today I just heard a shocking news (or probably just a rumor since the credibility of the messenger is still in question-if you smell subtle sarcasm, you're absolutely right) about one of my friend, C, whom is a fellow doctor. I confirm with my friend, she said part of it is true while the other part of it is still unclear-wether it's true or wrong.
You might still wondering why am I saying that my friend is just a victim of hypocrisy. Well, to be honest, it all started with just a simple conversation which I had with another fellow doctor about my plan to work in a hospital.
It turns out that my friend whom I mentioned before is no longer working in the hospital which I also mentioned. The fact is-which already been confirmed- she quit because some issue about the impending working schedule. While rumour has it that it might be related to some violation against something that we believed, honor, and cherished - don't ask me what, or otherwise it's gonna be a long explanation-, something that make us difference than some other people, something that we could be proud of-but some other people think they can use it to make them more superior.
Well to be honest, the violation is also been done, other than C, there are 3 other doctors, including me. Why don't I feel shame to say it? Or maybe you sense some pride in the way I'm saying that I've violated something? That is all because I'm not a hypocrite. Why? Because I did that for some good reasons. For the sake of myself, people I care about, my society, and I believe it'll allow me to fulfill the path that have been designed for me.
C maybe encouraged me to do so. But I believe she also has good reasons to do that and even encouraged me to do that.
And some people used that one mistake to ruin C's career. They did few terrible things. Unbelievable for the group of people who think that they never did anything wrong, or make some mistakes, or maybe they think that they are the saints while the four of us are the sinners. Well, think again fellas, we're all just f-ing human (pardon my language), we make mistakes, that's how we learn to be something better, or make some consideration about the grey zone, because not all things are black and white.
Let's back to our topic, hypocrisy, something that is based on jealousy and cowardness.
I make "jealousy is a disease" as a motto. It may sounds harsh, but it's the ugly truth. And even worse, it's contagious. Jealousy started with the discontent of people's heart and soul and mind, as it's spread through, it creates some paranoid dellusion, that other people are better than themselves, it raises their awareness of the flaws of other people, or even worse they create the pseudo-flaws, or fake flaws to that other people, and that, my friends, is the beginning of rumor, gossip, you name it.
And those people is just some cowards. They are too afraid about the system, they don't want to change it. They're just messing with people who follow the system.
Now you might wondering why am I calling those people who hurt C are just some hypocrites?
Because they're just pretending to be something they're not. Au contraire with their speech, their attitudes, their actions show something that is really different.
So, I'll just say, those hypocrites to me are just some fake people. They're actually going to be great actors, since they can act so well in real life, I bet they could win some Oscars if they're in a movie.
For C. As I always said, before exams -academic exams- or during hard times, "this too shall past". Just believe that there's a rainbow after every storm. All things are changing for something better. And I'm really proud that you handle this situation with a clear head and kind heart. You're a good person, you'll have a happy-wonderful-excellent ending in the story of your life. Thank you for sharing with me.

Freedom???

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya buat.
Saat menulis ini, saya baru selesai membaca blog seorang anak sma 6 mahakam tentang "keributan" di lingkungan sekolahnya karena sejumlah pencari berita yang menurut dia sangat mengganggu kegiatan belajar di sekolahnya menyusul kejadian tawuran antara sma 6 dan sma 70. Blog ini tidak sengaja saya dapat. Sebenarnya ini blog yang direkomendasikan oleh Radit lewat twitter.
Ini nih link-nya : http://monkeydonkeyrules.blogspot.com/2011/09/sulutan-api-di-bumi-mahakam.html
Banyak hal yang sangat saya sukai dari cara penulisan Indra (si empunya blog). Walaupun kesannya berat sebelah (Indra tampaknya terlalu membela sekolahnya, tapi saya tidak menyalahkan Indra untuk hal ini), Indra menulis dengan gaya yang baik, dengan kata-kata yang bagus tapi mudah dicerna (tampaknya hal ini yang bikin Radit merekomendasikan tulisan Indra).
Ada beberapa hal yang sangat saya sayangkan. Saat saya mulai membaca komen-komen yang diberikan orang untuk tulisan Indra. 50% komentator memberikan komentar berupa pujian atas tulisan Indra yang bagus. Tapi setengah lagi hanya "menyampah". Sangat disayangkan jika kita membaca tulisan yang benar-benar bagus, tapi kita tidak memberi apresiasi kepada si penulis, tapi kita malahan memberi komentar yang bukan hanya tidak berhubungan dengan tulisan tersebut tapi juga komentar yang bersifat "memprovokasi" pemberi komentar atau bahkan pembaca blog lainnya, komentar yang hanya ditulis berdasarkan emosi si pembaca hingga terjadi adu komentar, tanpa menghiraukan arti dari tulisan tersebut sebenarnya. Beberapa komentar yang menyudutkan Indra juga beberapa kali muncul. Komentar-komentar tersebut saya duga ditulis oleh wartawan yang entah sengaja atau kebetulan membaca tulisan Indra. Jika para wartawan merasa punya kebebasan untuk mencari berita karena dilindungi UU. Sebagai seorang warga negara Indonesia, saya yakin Indra juga punya kebebasan untuk menyatakan pendapat.
Hal lain yang saya sesali adalah, tindakan "semau gue" para pencari berita yang mengatasnamakan undang-undang kebebasan pers. Yang mungkin tanpa mereka sadari bisa merugikan orang-orang lain. Contohnya adalah kejadian yang ditulis Indra dalam blognya. Saya bisa membayangkan betapa sulitnya bagi para siswa sekolah tersebut untuk belajar dalam keadaan ribut karena para pencari berita yang berkumpul di lingkungan sekolah, berteriak minta pihak sekolah memberi keterangan, naik ke atap sekolah, mengganggu siswa yang hendak pulang.
Maaf jika saya juga kesannya membela pihak sekolah Indra.
Mengenai masalah perampasan kaset rekaman oleh seorang siswa, yang menurut saya merupakan tindakan yang disulut emosi. Saya tidak membenarkan tindakan siswa tersebut, tapi sangat disayangkan jika masalah itu terlalu dibesar-besarkan sementara masih ada banyak hal lain yang perlu diperhatikan oleh kita semua. Apalagi siswa tersebut hanya seorang remaja yang berusia belasan tahun dengan kecenderungan bertindak impulsif.
Indra sempat menulis bahwa ia mengurungkan niatnya untuk menjadi wartawan setelah kejadian ini. Sangat disayangkan bila perbuatan orang-orang tertentu digeneralisasikan menjadi sifat dari suatu kelompok pekerjaan. Saya yakin walaupun hanya sedikit, ada beberapa pencari berita yang tetap bertindak sebagai profesional dan bukan pembuat sensasi.

*thank you Radit for the recomendation, thank you for all who inspire me to write*